whatsapp-image-2016-08-22-at-10-10-39

whatsapp-image-2016-08-22-at-10-10-39

Amil memang jempol. Saking jempolnya, di rumah sakitpun penuh dengan senyum bahagia. Amil sendiri adalah profesi yang disebutkan dalam Qur’an. Entah begitu mulia atau pekerjaan yang tak semua orang bisa lakukan. Monggo tafsirkan sendiri.

Amil ziswaf baitul maal BMT salah satunya. Tapi saya sendiri bersyukur, jadi amil itu banyak saudara. Banyak menebar kebaikan, banyak silaturrahmi dan banyak menikmati kulinernya (hehehe…).

Pengalaman Roadshow dan Baksos di Pati kemarin misalnya, banyak kisah menarik, dari salah satu peserta, berangkat naik Ambulan dengan segenap aroma sedih dan heroiknya, lokasinyapun di rumah Sehat Fastabiq, rapat, diskusi dan makan di Rumah sehat.

“Rumah sehat Fastabiq memang bukan untuk orang sakit saja, tapi juga untuk orang sehat! Dengan menempatkan orang sehat-sehat secara jasmani dan ruhani, orang yang sakitpun mudah-mudahan bisa cepet sembuh” kata Bapak Ridwan dalam shering baitul maal PBMTI Jateng.

Tidur di rumah sehat Fastabiq memang tak terasa rumah sakit. Tapi terasa hotel yang beranjang lesehan. Satu kamar bisa berisi 5 hingga 9 orang. hehehe…. asyiknya kebersamaan dan asyiknya untel-untelan dalam tidur dan perjuangan.

Nasi gandul, nasi urap dan jajanan pasar khas ndeso menjadi pernik-pernik kuliner yang sangat nikmat di lidah. Apalagi dibumbuhi saling berebut dan makan yang beralas keramik thok!. “Amil-amil Baitul Maal memang jooss. Bila di dasari keikhlasan dan ridha Allah niscaya insyallah akan luar biasa lagi” aku membatin.

Bapak Bimo, salah satu narasumber Roadshow dan Baksos Baitul Maal PBMTI Jateng, ketika menelpon rumah, istrinya kaget, “kok di rumah sakit memang sakit apa?” ia tersenyum lalu berkata “pelaksanaan roadshow dan Baksos Baitul Maal PBMTI Jateng memang di rumah sehat Fastabiq. Tapi dilantai lima. Kalau lantai satu hingga lantai empat dipakai untuk pasien yang sakit”. “Dan lantai lima ke atas untuk pasien yang sehat” ini murni tambahan dari saya. hehehe…

Jendral Dimas, ketua Baitul Maal PBMTI Jateng pun mengatakan, Roadshow kali memang memberikan pengalaman yang menarik, semuanya bernuansa rumah sakit, berangkat dengan ambulan, pelaksanaan, tidur dan makanpun di rumah sakit. “saya kira, nanti akan ada pengalaman-pengalaman yang lebih munarik lagi, insyaallah!” ujarnya.

Sehabis meninjau pemberdayaan ayam Fastabiq. Pulang pun harus mampir ke RS Keluarga Sehat Hospital Pati menjenguk bapak Junaidi (BMT BUS Lasem) untuk menyerahkan sumbangan dari amil-amil baitul maal PBMTI Jateng yang lagi cuci darah. Bapak Junaidi adalah pegiat awal BMT Ben Taqwa yang kini bergabung dengan BMT BUS. Yang membuat saya merinding, ketika menjenguk beliau. “pilihan saya hanya ada dua, satu mati atau kedua bertahan dengan selalu cuci darah dua kali dalam seminggu. Karena cuci darah bukan untuk menyembuhkan” ucapnya dengan begitu tabah.

Dengan rasa yang belum hilang dalam hati. Saya dan rombangan amil dari temanggung melanjutkan perjalanan ke solo untuk mengikuti agenda kementrian koperasi dan UMKM RI tentang wakaf uang. Dengan segenap perjuangan menhadapi jalan yang sedang diperbaiki. Akhirnya sampai solo jam delapan malam. Dari Pati sekitar jam dua siang.

Acara demi acara kita jalani dengan penuh khitmad. Team Kementerian koperasi dan UMKM RI yang di pimpin oleh Bapak Tamim syaifuddin dan bapak Fathurrozi dari BWI (badan wakaf Indonesia) terkait dengan wakaf uang.

Masing-masing BMT yang ingin menjadi nadzir secara kelembagaan langsung presentasi. Setelah  mendapat arahan dari bapak Tamim dan Direktur eksekutif Badan wakaf Indonesia, bapak Junaidi tentang wakaf uang.

Setelah penutupan Wakaf Uang di Hotel Syariah Solo, para pegiat Baitul Maal pun pulang dan ada sebagian yang memilih menikmati kota Solo. kami dari rombongan temanggung plus saya (tamzis) dan mas fahmi memilih untuk pulang. Bagi kami, keluarga di rumah sudah menunggu yang rindu bertemu.

Dalam perjalanan pulang menembus truk-truk besar dan bis yang saling nyolong mencari jalur yang lebih cepat. Sesampai di Salatiga. Mas fahmipun mengeluh sakit kepala yang tak tertahankan. Mata kanan sudah mulai gelap. Dan minta ke rumah sakit. Hasil ngobrol, sesama rombongan memilih RS Ken Salas disamping lebih dekat. Juga katanya, lebih bagus. Ternyata tensi darah 170/ 120. Harus opname.

Terpaksa, panggil pak jamal dengan Ambulannya. Akhirnya, mas fahmi pun di boyong dengan Ambulan BMT Walisongo. “ Pergi ke RS, pulang ke RS”.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *